" Ketika wajah ini penat memikirkan dunia maka berwudhulah, Ketika tangan ini lelah menggapai cita-cita maka bertakbirlah, Ketika pudak ini tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah. Ikhlaskan semua dan mendekatlah pada-Nya. Agar tunduk disaat yang lain angkuh, agar teguh di saat yang lain runtuh dan agar tegar di saat yang lain terlempar"
Benda yang terlihat di jauh takterhingga akan dilihat oleh mata dalam keadaan istirahat dimana bayangan jatuh tepat diretina ini adalah akibat kontraksi Musculus Ciliaris, Pars Longitudinalis dan Pars Radialis. Hal ini akan mengakibatkan zonula zinii menegang dan lensa memipih disebut un accommodated eye.
Pada keadaan akomodasi pars ciliaris berkontraksi dan mengakibatkan Processus Ciliaris bergerak kedepan dan ketengah yang menyebabkan zonula zinii mengendor dan lensa mencembung.
Teori Tscherning (teori aktif)
Disini bila musculus ciliaris berkontraksi zonula zinii akan menegang dan lensa akan tertarik keluar (menjadi pipih) sedangkan bagian tengah lensa yang lebih kompak (padat) tidak akan ikut memipih jadi akan kelihatan lebih cembung.
Yang dinamakan dengan visus adalah kemampuan seseorang untuk dapat melihat suatau objek dengan jelas tanpa akomodasi. Dengan kata lain visus adalah suatu bilangan yang menunjukkan ketajaman penglihatan.
Misal : Visus A : 6/40
Artinya : si A dapat mengenal huruf tersebut pada jarak 6 m sedangkan orang normal dapat mengenal huruf tersebut pada jarak 40 m.
Pada mata yang visusnya kurang dari 1 (5/5 atau 6/6) dikoreksi dengan lensa spheris (+) atau (-), lensa cylindris (+) atau (-) dan lensa spherocylinder, dimana kekuatan dari lensa-lensa tersebut dinyatakan dalam Dioptri (D).
Ada 3 hal yang diakibatkan oleh pemaksaan koreksi yang tidak mencapai 6/6 :
Sebagaimana yang sudah kita ketahui didalam optotip terlihat huruf-huruf yang semakin kebawah semakin kecil. Bila angka atau huruf atau angka yang terbesar tidak terlihat juga oleh penderita, maka kita gunakan finger counting yaitu pada jarak 6 m sampai 1 m dan dinyatakan dalam tajam penglihatan 6/60 sampai 1/60.
Bila dengan menghitung jari, tidak dapat dinyatakan oleh penderita maka kita akan menggunakan Hand Movement, dimana visus dinyatakan 1/300.
Bila gerakan ini tak terlihat juga maka kita akan memakai lampu senter untuk menunjukkan apakah penderita masih dapat melihat cahaya atau tidak, ini disebut dengan Light Perception, dimana visus dinyatakan 1/∞ (takterhingga).
Dalam hal ini dia tak tahu datangnya arah sinar, maka hal ini disebut sebagai proyeksi negataif yang dinyatakan dengan visus 1/∞ Proyeksi Negatif.
Sebaliknya bila dia tahu arah datangnya sinar, dinyatakan dengan 1/∞ Proyeksi Positif.
Bila penderita tidak dapat melihat cahaya atau tidak dapat membedakan terang dan gelap, dinyatakan buta total. Adapun tanda buta total adalah padasaat mata disinari, pupil tidak bereaksi. Materi terkait baca disini!
Kacamata dalam arti umum bersifat
berlawanan dari kelainan mata sehingga kesalahan-kesalahan ini akan saling
menetralisir. Kita juga dapat membuat mata menjadi Ametrop yaitu dengan jalan
memberikan atau memasang kontak lens dimata tersebut. Dan ini dapat dibuat
Emmetrop kembali dengan kacamata yang berlawanan ukurannya dengan contact lens
tersebut. Jadi disini kombinasi kacamata dengan contact lens tersebut mempunyai
nilai nol.
Telah
diketahui bahwa pada Ametropia bayangan di retina kabur, sedangkan pada
Emmetrope bayangan di retina jelas. Disini mata kita disebut Emmetrope jika
mempunyai tajam penglihatan maximum, sebaliknya dengan membuat tajam
penglihatan maximum maka mata menjadi Emmetrope tanpa akomodasi ( untuk jarak
jauh ). Dan ini kita anggap suatu mata yang ideal. Usaha untuk kearah tajam
penglihatan maksimum adalah bersamaan dengan usaha melihattanpa kesalahan dalam
keadaan confortable (nyaman).
Kacamata
dengan ukuran yang tidak penuh pengoreksian matanya adalah kacamata yang salah.
Karena karena orang tersebut akan mengusahakan matanya secara tidak normal
untuk melihat secara maksimum ( konsentrasinya). Hal ini dapat dikerjakan atau
terpaksa dikerjakan jika:
1.Ada
perubahan kacamata yang sangat besar
2.Pada
Annisometropia tinggi
3.Pada
perubahan kekuatan Astigmat tinggi yang disertai perubahan axisnya.
Jadi pada pemeriksaan
refraksi kita harus berusaha membuat tajam penglihatan mata yang maksimal (
optimal ), janganlah puas dengan hasil yang tidak penuh ( tajam penglihatan
yang kurang ) karena kelainan refraksi bukanlah penyakit atau suatu kelemahan
dari mata, meskipun kelainan bentuk ( akibat pertumbuhan ) dan akibat dari
ketuaan dapat menyebabkan kelainan refraksi.
Pemeriksaan refraksi
dibagi dua:
1.Pemeriksaan
secara objektif, dimana pada pengukuran pasien bersifat pasif atau tidak
bicara. Yang menentukannya adalah pemeriksa dengan alat-alat optic atau
refraksi seperti:
oStreak / Retinoscope
oRefractiometer
oKeratometer
oComputer
2.Pemeriksaan
secara subjektif, dimana pada pengukuran pasien bersifat aktif karena dia
merasakan perubahan-perubahan yang diberikan padanya oleh pemeriksa. Untuk itu
diperlukan ruangan yang cukup besar atau tertentu. Alat-alat refraksi yang
dipergunakan adalah:
oTrial Lens Set dan Trial Frame
oOptotip dan Clock Dial
Yang semuanya akan
dibicarakan satu persatu. Materi terkait baca disini!
" Ketika wajah ini penat memikirkan dunia maka berwudhulah, Ketika tangan ini lelah menggapai cita-cita maka bertakbirlah, Ketika pudak ini tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah. Ikhlaskan semua dan mendekatlah pada-Nya. Agar tunduk disaat yang lain angkuh, agar teguh di saat yang lain runtuh dan agar tegar di saat yang lain terlempar"